Dulu semasa jadi ustazah ganti di sekolah agama kampung | Sharing from NH 🌸

| Sharing from NH 🌸


Dulu semasa jadi ustazah ganti di sekolah agama kampung, saya pernah mengajar adik-adik di sana mengenai kelebihan melafazkan salam.

Kemudian seorang adik mengangkat tangan,

" Ustazah ! Kalau hasanah yang sempurna macam mana ? "

Saya menjelaskan bahawa semakin panjang lafaz salam, semakin banyak kebaikan buat kita.

Kemudian dia terdiam dan menyambung semula,

" Kalau begitu, saya mahu kebaikan yang lain boleh ustazah ? "

Terangkat kening saya sedikit.

Saya reply,
" Kebaikan apa ? "

" Ustazah sudikah menjadi isteri abang saya ?"

Gulp !

Merah seluruh pipi.

Berdekah-dekah satu kelas.
Masya-Allah Hu Ta'ala.

Teringat pertanyaan seorang kakak Mesir,

" Hassanah will you marry you ? "

Pertamanya, saya agak blur.

Kemudian dia kata,
" Yes. I mean, kalau ada seorang lelaki yang mencerminkan sifat diri seperti hassanah, hassanah sudi ? "

Ok terkesan.

Saya membayangkan.

Andai saya seorang yang malas, wajar ke saya menolak lelaki yang juga malas ? Sedang diri saya jua begitu.

Andai saya seorang yang suka melayan lelaki, wajar ke saya mengadu domba andai Allah takdirkan saya punya pasangan seperti itu sedang diri saya jua begitu ?

Andai saya seorang anak yang derhaka, wajarkah saya menolak dan mengatakan Allah tidak adil beri saya lelaki yang tiada adab dengan orang tua, walhal diri saya jua begitu ?

Andai saya seorang kaki umpat, dan mulut jahat, wajarkah saya kata pasangan saya jahat, kaki kutuk. Walhal diri saya dan dia tiada bezanya ?

Cuba listkan keburukan-keburukan kita dalam hati.

Then muhasabah.

Kenapa kita selalu mencari bukan menjadi ?

Kamu,
Will you marry you ?

Just say Yes or No dalam lubuk hati yang paling dalam.

😊

https://telegram.me/kakHassanah

0 Response to "Dulu semasa jadi ustazah ganti di sekolah agama kampung | Sharing from NH 🌸"

Post a Comment